Jul 22 2009

Nganggur, kerja, ibadah, sama capeknya

Orang itu masih duduk di tempat yang sama, duduk di taman rumput pinggir jalan, memakai topi, dan tidak melakukan apapun kecuali sekedar duduk-duduk saja. Begitulah yang kulihat ketika berangkat kerja di pagi hari, demikian pula yang kulihat ketika pulang di sore hari. Orang itu masih duduk di tempat sama, dan tidak melakukan apa-apa.

Kemudian terpikir dalam benak ini, apakah saya lebih capek hari itu dibandingkan dia? Rasanya tidak juga. Sepertinya dia juga mengalami kelelahan, mungkin kelelahan mental. Tampaknya duduk bengong seharian akan sama capeknya dengan bekerja seharian.

Pekerjaan saya sekarang ini memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu kerja. Tidak leluasa amat, tapi boleh datang agak lambat atau pulang agak cepat. Terkadang saya sengaja tidak pergi ke kantor dan memilih bekerja di rumah, apakah itu menulis, mengoreksi ujian, membaca, dan kadang pula istirahat karena sebelumnya pergi ke luar kota. Yang saya rasakan, tidur melulu sepanjang hari, lalu berusaha tidak melakukan apapun, hanya nonton TV misalnya, betul-betul keiatan yang membosankan dan melelahkan pikiran. Rasanya diri ini tak berharga, tak menghasilkan apa-apa, dan hanya membuang waktu seharian (sementara umur kita makin pendek). Useless. Perasaan tak berharga itu sungguh melelahkan.

Jadi saya tahu bahwa nganggur itu tidak enak, membosankan, melelahkan. Sama capeknya dengan orang bekerja. Karena itu bila Anda sekarang memiliki pekerjaan, bercapek-capek pergi dari rumah ke kantor, berimpitan di KRL (Kereta Rel Listrik) maupun bis umum, terpaksa lari menghindari hujan maupun berkeringat di terik matahari, dan masih ditambah menghadapi bos yang kurang menyenangkan, maka BERGEMBIRALAH bahwa Anda punya pekerjaan dan tidak nganggur. Nganggur itu tidak enak.

Saya terkadang bilang ke mahasiswa saya, “Tahu tidak bahwa kuliah itu berat, namun tidak kuliah itu lebih berat!” Ya, nganggur, apalagi dengan ketidakpastian dan kecilnya peluang masa depan, merupakan kegiatan yang berat, lebih berat daripada mengerjakan tugas kuliah dan ujian.

Nganggur dan bekerja itu sama capeknya.

Bekerja dan ibadah

Bekerja dan ibdah pun sama capeknya. Siapa bilang ibadah itu lebih capek?

Rekan saya dari New York suatu ketika pergi ke Indonesia untuk membentuk tim programmer buat bisnisnya di Amerika. Dia percaya tenaga Indonesia itu handal dan berkualitas, sementara biaya memang relatif jauh lebih hemat dibandingkan di Amerika. Pekerjaan bisa dikirim lewat internet, karena kebetulan data yang dibutuhkan berbentuk digital. Ketika proses mewawancara para pelamar, dia memberikan pengantar yang menekankan perbedaan bekerja saja dengan bekerja sebagai ibadah. Dia adalah muallaf yang taat. Kira-kiranya begini terjemah bebasnya (dia ngomong dalam bahasa Inggris, dan kami manggut-manggut pura-pura ngerti), “Sekedar bekerja, dengan bekerja sebagai ibadah itu sama capeknya. Seorang programmer sibuk bekerja keras hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya. Dan programnya mungkin juga tidak jalan. Programmer lain juga bekerja keras hingga malam, sampai hampir pecah kepalanya, namun dia berniat kerja sebagai ibadah. Hasilnya program mungkin juga tidak jalan, tapi dia mendapatkan pahala dari kerja kerasnya tersebut. Sama-sama kerja keras, sama-sama capek, tapi hasilnya berbeda.” Begitulah kira-kira yang dia sampaikan waktu itu, saya agak lupa persisnya, tapi kira-kira begitulah isinya.

Kerja dan ibadah itu sama capeknya. Tapi hasilnya beda, yang satu hanya duniawi (itupun sering luput), yang satunya plus ukhrowi mendapat hasil akhirat juga. Nah, bila Anda bekerja dengan tujuan plus ibadah, maka BERBAHAGIALAH. Anda sama capeknya dengan teman Anda sekedar bekerja, namun Anda mendapat pahala yang tidak akan didapatkan bila hanya sekedar bekerja.

Di manakah perbedaannya?

Lalu apa yang membedakan nganggur, kerja, dan ibadah, kalau akibatnya sama-sama capek?

Bedanya nganggur dengan kerja itu hanyalah MENAMBAHKAN TUJUAN PRODUKTIF dari apa yang kita lakukan. Bengong di pinggir jalan bila kemudian diberi tujuan untuk mengamati perilaku konsumen bisa bernilai kerja. Sama-sama duduk di pinggir jalan, namun karena ditambahkan tujuan produktif maka kegiatan itu menjadi bernilai.

Lalu apa bedanya bekerja dengan ibadah? Beribadah itu bukan hanya masalah shalat. Semua yang kita lakukan di dunia asalkan selaras dengan perintah Tuhan, maka kegiatan itu bisa bernilai ibadah. Yang perlu kita lakukan hanyalah MENAMBAHKAN NIAT IKHLAS dalam kerja kita itu. Apa itu ikhlas? Ikhlas itu artinya mengharapkan balasan sesuai kehendak Tuhan. Jadi kalau kita sudah usaha keras, bersungguh-sungguh, dengan niat baik, dan ridha/rela dengan apa pun hasilnya, itu sudah ikhlas. Kalau kita masih mengharapkan hasil sesuai mau kita sendiri, dan marah-marah kalau hasilnya tidak sesuai, berarti itu belum ikhlas. Tugas manusia itu menyempurnakan usaha, hasilnya sesuai dengan aturan Tuhan, kadang seperti yang kita perkirakan, sering pula beda jauh dari yang kita harapkan. Kalau kita rela dengan hasilnya maka kita ikhlas. Jadi, berusaha kerja sungguh-sungguh menyempurnakan usaha adalah bentuk ikhlas, karena motif kita bukan cuma uang gaji atau dari marah si Bos, tapi karena memberi kontribusi positif itu adalah sesuatu yang selaras dengan perintah Tuhan. Kita ikhlas dalam menempuh usaha untuk menjalani kehidupan. Kalau kita dihadapkan pada dilema mengambil barang haram atau meninggalkannya (dengan resiko kita kelaparan), lalu kita memilih meninggalkannya karena perintah Tuhan, ini juga bentuk ikhlas (karena yakin rizki itu dariNya). Kita ikhlas dengan kesempatan dan jalan rizki yang diberikan. Kalau hasil usaha kita tidak sesuai, maka kita rela dan niat akan berusaha lebih baik dan lebih cerdas untuk selanjutnya. Kita ikhlas dengan hasil kerja keras kita.

Jadi bedanya nganggur dengan kerja sangatlah tipis, yaitu sebuah tujuan produktif. Banyak orang tampak nganggur, namun dia sebenarnya sedang merancang sesuatu dalam pikirannya. Ini bekerja namanya. Sebaliknya banyak orang tampak sangat sibuk, namun sebenarnya hanya pelarian dan kamuflase saja. Ini pura-pura kerja namanya. Alva Edison, pendiri General Electric, bilang,

Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing. (Edison)

Seeming to do is not doing. Tampak giat bukanlah kerja. Hanya ketika ada tujuan produktif dari kegiatan tersebut barulah disebut bekerja. Makanya kita sering jengkel dengan orang yang rajin masuk kantor hanya untuk duduk-duduk dan ngerumpi hingga sore. Sibuk tapi tidak bekerja.

Setipis itu pula bedanya bekerja dengan beribadah. Ketika kita menambahkan niat yang benar dalam kita bekerja, maka nilai pekerjaan itu menjadi berlipat ganda, dunia dan akhirat. Kalau begitu kita harus niat terus sepanjang waktu dong? Tidak juga, selama hari itu dimulai dengan Bismillah, dan kemudian yang kita lakukan sepanjang hari itu selaras dengan perintah Allah (tidak maksiat, tidak berbuat jahat, tidak menyakiti orang lain, tidak mengambil yang haram, dsb), maka keseluruhan kegiatan hari itu (termasuk mandi pagi, lari-lari mengejar bis, dll) menjadi ibadah bagi orang tersebut. Niat itu dimulai saat awal, lalu dijaga saja sepanjang hari, maka kerja menjadi ibadah.

Nganggur, kerja, ibadah, sama capeknya beda hasilnya. Nganggur tidak mendapatkan apapun, kerja mendapat hasil dunia, ibadah mendapat dunia akhirat.

nganggurkerja
nganggurkerja

PS: Ngeblog pun sama saja. Kalau ngeblog tanpa tujuan maka nilainya sama dengan pengangguran, kalau diberi tujuan yang produktif (berbagi ilmu misalnya, atau jualan) maka bernilai kerja, dan ketika ditambahkan niat tulus (membagi ilmu untuk menebar manfaat bukan sekedar mencari ketenaran diri, jujur tidak manipulatif, dll) maka dia menjadi ibadah.
Baca blog pun sama saja. Kalau hanya iseng maka itu namanya pelarian pengangguran, kalau ditambahkan tujuan produktif (menambah ilmu, menambah kenalan, belajar) maka dia berfungsi seperti bekerja (perusahaan layak membayar internet untuk karyawan seperti ini), dan kalau ditambahkan niat tulus untuk ibadah (menjauhkan diri dari maksiat, pilih-pilih blog yang bermanfaat, dll) maka membaca blog pun adalah ibadah. Menguntungkan bukan? Small thing can make a big difference!

sumber : 


Jul 17 2009

Ramadhan Bulan Penuh Berkah

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS Al Qoshosh [28]:68) .

Allah memilih sesuatu yang dikehendakiNya. Allah memilih tempat yang dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb.

Allah memilih gua Hiro’ yang dikehendakiNya sebagai tempat pertemuan Rasul dan Malaikat Jibril. Allah memilih Mekkah yang dikehendakiNya sebagai kiblat kaum Muslimin dan memilih pula kota Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi. Begitu pula halnya dengan bulan -bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an.

Firman Allah:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari -hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. QS Al Baqoroh [2]:185.

Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. Begitu halnya dengan bulan Ramadhan, sebab Allah tidak akan mengatakan Ramadhan sebagai bulan istimewa jika tidak ada sesuatu dibalik itu. Baginda Rasulullah SAW, ketika berada di penghujung bulan Sya’ban, selalu mengatakan kepada sahabatnya:

Telah datang padamu bulan Ramadhan, penghulu segala bulan. Maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu. (HR. Ath Thabrani).

Dalam sabdanya yang lain:

Sesungguhnya telah datang padamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan. (HR. An Nasai dan Al Baihaqi)

Jika kita menengok ke belakang, melihat sirah Rasulullah SAW kita akan melihat betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya:

1. Bulan diturunkannya Al Qur-an.

Firman Allah:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185)

Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata: “Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan jalan menurunkan Al Qur-an. Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan tabir-tabir yang menghalangi kita manusia memandang nur Ilahi yang Maha Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di seluruh dunia.

2. Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya.

Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:

Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan. (HR. Ahmad)

Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau mensucikan dirinya.

3. Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badr.

Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu kelangsungan perjuangan da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan “yaumul furqon” (hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak- anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. QS Al Anfal [8]:41.

Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga akhirnya adalah rencana Allah SWT yang dilaksanakan dengan pimpinan dan bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah menerima perintah yang baru beberapa saat diterimanya. Namun itu bukanlah hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan ini membuahkan babakan baru dalam sistem gerakan Islam. Perang ini memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh tahapan-tahapan perjuangan da’wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan negara.

4. Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah.

Peristiwa “fathul makkah” terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 kaum Muslim mendatangi Makkah dari segala penjuru. Pada saat itulah terjadi fenomena kemenangan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah manapun, dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau balas dendam.

5. Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar.

Dijelaskan dalam firman Allah SWT:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al Qadr [97]:1-5)

6. Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat.

Firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. QS Al Baqarah [2]: 183.

Bersamaan dengan turunnya ayat perintah berpuasa di bulan Ramadhan, pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin.

Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab.
Berbeda pula kiblat Muslimin dengan mereka, serta puasa Muslimin dengan
mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini.


Jul 17 2009

Hukum Fotografi

PERTANYAAN

Saya mempunyai kamera untuk memotret ketika saya berekreasi atau pada acara-acara tertentu lainnya, apakah yang demikian itu berdosa atau haram? Di kamar saya juga ada foto beberapa tokoh, selain itu saya mempunyai beberapa surat kabar yang di dalamnya ada foto-foto wanita, apakah yang demikian itu terlarang? Bagaimana hukumnya menurut syariat Islam?

JAWABAN

Mengenai foto dengan kamera, maka seorang mufti Mesir pada masa lalu, yaitu Al ‘Allamah Syekh Muhammad Bakhit Al Muthi’i - termasuk salah seorang pembesar ulama dan mufti pada zamannya - didalam risalahnya yang berjudul “Al Jawabul Kaafi fi Ibahaatit Tashwiiril Futughrafi” berpendapat bahwa fotografi itu hukumnya mubah. Beliau berpendapat bahwa pada hakikatnya fotografi tidak termasuk kedalam aktivitas mencipta sebagaimana disinyalir hadits dengan kalimat “yakhluqu kakhalqi” (menciptakan seperti ciptaanKu …), tetapi foto itu hanya menahan bayangan. Lebih tepat, fotografi ini diistilahkan dengan “pemantulan,” sebagaimana yang diistilahkan oleh putra-putra Teluk yang menamakan fotografer (tukang foto) dengan sebutan al ‘akkas (tukang memantulkan), karena ia memantulkan bayangan seperti cermin. Aktivitas ini hanyalah menahan bayangan atau memantulkannya, tidak seperti yang dilakukan oleh pemahat patung atau pelukis. Karena itu, fotografi ini tidak diharamkan, ia terhukum mubah.Fatwa Syekh Muhammad Bakhit ini disetujui oleh banyak ulama, dan pendapat ini pulalah yang saya pilih dalam buku saya Al Halal wal Haram.

Fotografi ini tidak terlarang dengan syarat objeknya adalah halal. Dengan demikian, tidak boleh memotret wanita telanjang atau hampir telanjang, atau memotret pemandangan yang dilarang syara’. Tetapi jika memotret objek-objek yang tidak terlarang, seperti teman atau anak-anak, pemandangan alam, ketika resepsi, atau lainnya, maka hal itu dibolehkan. Kemudian ada pula kondisi-kondisi tertentu yang tergolong darurat sehingga memperbolehkan fotografi meski terhadap orang-orang yang diagungkan sekalipun, seperti untuk urusan kepegawaian, paspor, atau foto identitas. Adapun mengoleksi foto-foto para artis dan sejenisnya, maka hal itu tidak layak bagi seorang muslim yang memiliki perhatian terhadap agamanya.

Apa manfaatnya seorang muslim mengoleksi foto-foto artis? Tidaklah akan mengoleksi foto-foto seperti ini kecuali orang-orang tertentu yang kurang pekerjaan, yang hidupnya hanya disibukkan dengan foto-foto dan gambar-gambar.

Adapun jika mengoleksi majalah yang didalamnya terdapat foto-foto atau gambar-gambar wanita telanjang, hal ini patut disesalkan. Lebih-lebih pada zaman sekarang ini, ketika gambar-gambar dan foto-foto wanita dipajang sebagai model iklan, mereka dijadikan perangkap untuk memburu pelanggan. Model-model iklan seperti ini biasanya dipotret dengan penampilan yang seronok.

Majalah dan surat kabar juga menggunakan cara seperti itu, mereka sengaja memasang foto-foto wanita pemfitnah untuk menarik minat pembeli. Anehnya, mereka enggan memasang gambar pemuda atau orang tua.

Bagaimanapun juga, apabila saudara penanya mengoleksi majalah tertentu karena berita atau pengetahuan yang ada didalamnya - tidak bermaksud mengumpulkan gambar atau foto, bahkan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak ia perlukan - maka tidak apalah melakukannya. Namun yang lebih utama ialah membebaskan diri dari gambar-gambar telanjangyang menyimpang dari tata krama dan kesopanan. Kalau ia tidak dapat menghindarinya, maka hendaklah disimpan di tempat yang tidak mudah dijangkau dan dilihat orang, dan hendaklah ia hanya membaca isinya.

Sedangkan menggantungkan atau memasang foto-foto itu tidak diperbolehkan, karena hal itu dimaksudkan untuk mengagungkan. Dan yang demikian itu bertentangan dengan syara’, karena pengagungan hanyalah ditujukan kepada Allah Rabbul ‘Alamin.

Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi
Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388
ISBN 979-561-276-X


Mar 12 2009

Pencopet! Alhamdulillah Target Selamat

Lagi2 pencopet… seperti biasa, kejadiannya di metromini 75 blok m-ps.minggu ketika berangkat kerja. berikut ini pemerannya :

  1. peran utama : pencopet berjumlah 4 orang dgn ciri2 berpakaian rapi kayak orang kerja, berkemeja, celana bahan, tapi gbawa tas trus ngerokok
  2. target : seorang wanita muda dgn kaos junkies bawa tas ibu2 (yg biasa digendong di bawah ketiak)
  3. peran pembantu : seorang ibu agak tua dan ibu2 (mirip omaswati :p) yang dua2nya ini membantu menggagalkan perampokan
  4. peran tambahan : sopir, kenek, dan penumpang lain termasuk saya v^_^

kita mulai ceritanya :D
naik 75 di blok m, kosong bisnya, jadi milih tempat agak belakang n sendiri, penumpang lain pun duduk pada sendiri2 n pada di pinggir, jadi bangku2 pojok kosong. lalu bis jalan deh, ditengah jalan ada dua orang tua naik, trus penumpang2 lain g ada yg mo geser ke pojok duduknya, jadi saya geser deh ke pojok biar orang tua itu bisa duduk. baru bentar jalan dua orang tua tadi langsung turun n ada bapak2 (pencopet tapi blm tau kalo dia copet) langsung duduk di bangku sebelah saya, alhasil saya jadi duduk di pojok deh.

pas orang itu duduk di samping saya saya udah ada feeling kalo orang ini punya niat jahat (sambil dalem hati baca ayat kursi)… trus orang di depan saya turun, abis itu saya pindah deh duduk di depan bangku saya biar lebih aman gitu. pemetaan TKP kayak gini, di samping saya ada seorang gadis, bangku depan saya bapak2, depannya lagi ada wanita muda juga (ini target mereka ternyata), duduknya tiga bangku di belakang supir. abis itu orang di belakang saya (pencopet tapi g tau yg posisinya dimana) tiba2 pinda ke bangku depan di deket pintu. mulai deh aksinya…

orang ini nanya ke gadis muda tadi, “mo turun mbak?”, “ya!”, jawabnya. lalu orang itu ngasih kode sama temen2nya di belakang, pas si target berdiri, tiba2 semua orang di belakang berdiri dan ikut maju ke depan ke arah pintu, mepet ke wanita muda tadi… kejadiannya sangat mudah ditebak penumpang lain, terutama sang peran pembantu yg duduk di depan pintu keluar (dua bangku belakang supir), yap ibu2 agak tua, dia (kayaknya) ngomong “eh..eh..”, sambil nabok2 pelang sang copet, peran pembantu ke dua duduk di depan samping supir (kayaknya temen or istri supirnya deh), melototin sang pencopet yg beraksi, krn dua peran pembantu tadi, jadinya sang target nyadar mo di copet (supir juga nyadar kayaknya makanya berenti bisnya), pas baru di pegang tas target (blm sampe di buka resletingnya) target langsung buru2 turun dan alhasil pencopet GAGAL…

saya hanya diam terpaku ngeliat itu (sama kayak penumpang lain) karena agak jauh juga jarak bangku saya dengan pintu depan. abis itu ibu2 agak tua tadi ngeluarin kayak minyak wangi dan nyiram2 ke arah pintu keluar (kayak gayanya dewi kwan im di pilem kera sakti ngasih mantra). pencopet hanya geleng2 dan gigit jari. abis kejadian pencopet masuh duduk di belakang saya dan suasana penumpang lain juga biasa.

lalu pas nyampe mampang di depan DPP PKS pencopet itu turun semua (4 orang). baru deh rame tuh kenek sama ibu2 di samping supir… kata ibu2 itu, wah, kalo g ada saya pasti udah kecopetan tuh orang, kalo ada saya mah gagal terus pencopet di sini, kan saya pelototin tuh copet :p (katanya) trus rame deh percakapan di bis. keneknya juga ikutan ambil bicara… “itu pencopet baru kayaknya, abis saya baru liat mukanya”, dalam hati saya “HAAAAHH!”, pencopet baru dan keneknya baru liat? berarti emang tuh kenek sering liat ya banyak yg nyopet di bis-nya… is..is..is…

tapi emang menurut saya juga mereka pencopet baru, cos kurang profesional (maklum pernah liat juga kejadian yg sama), biasanya kalo mereka mo nyopet posisinya tuh gini. di depan pintu keluar pasti ada yg jaga buat ngehalangin penumpang (target) yg turun supaya waktu mencopet agak lama, selain itu tujuan yg ngehalangin di pintu itu juga agar target jadi marah sama orang itu dan perhatiannya teralihkan sehingga tas nya tidak terjaga dan semakin mudah di copet, pencopet lainnya yg biasanya dua orang biasanya ada di belakang target, satu mengalihkan perhatian juga dan satu lagi nyopet deh, kalo berhasil pasti yg ngehalangin pintu ngasih tuh penumpang turun, gitu kalo yg profesional :p

jadi kalo yg tadi tuh kayaknya pencopet baru yg lagi dalam masa training… ha..ha..ha..

makanya buat temen2 or sapa aja, hati di jalan, waspada sama siapa aja orang yg tidak anda kenal, apalagi yg mencurigakan. biasanya target lebih disukai penjahat adalah wanita muda, makanya saran saya agar kalo bepergian jangan sendiri ya, minimal berdua gitu, apalagi kalo didampingi cowo (suami maksudnya -pen). trus bagi cewe kalo bisa jangan pake tas ibu2 yg digendong di bawah ketiak karena mudah dijangkau dari belakang, tapi gunakan tas yg talinya dua trus taro di depan biar lebih save, kalaopun pake tas ibu2, bagian resletingnya taro di bagian depan ya, jangan belakang v^_^

Semoga bermanfaat!

-Fikri-


Mar 11 2009

Bantu Aku Menjaga Mataku

Tinggalkan masa lalu ukhti. Ini saatnya kita berfikir jernih: menunda berhias sampai ia menjadi berpahala. Adalah konyol, berhias untuk orang yang belum pasti menjadi suami atau istri, sementara di dalamnya kita melanggar larangan Allah dan mengundang murkanya dengan make up perilaku jahiliyah. Dengarlah, Allah sendiri yang mengajakmu bicara:

“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang2 jahiliyah dahulu…” (Al Ahzab 33)

Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Betapa banyak bencana akibat mata tak terjaga. Dan betapa cerdas iblis, yang menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkahlaku jahili. Menatap perilaku dan kelincahan memang membahagiakan. Melihat engkau berhias cantik, pasti membuat aku tertarik. Memandangmu…, walau selalu.., kata seorang penyanyi, tak akan pernah tumbuh jemu di hatiku.

Astaghfirullah, seharusnya kebahagiaan, ketertarikan, dan kejemuan itu tak perlu hadir jika ia menghadirkan nyala neraka di pelupuk. Engkau lebih tahu bagaimana menjaga dirimu dari mataku. Bantu aku menjaga mata ini, agar kita semua selamat sampai akhir nanti.

Sumber : Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)


Mar 11 2009

Cinta Kita Cinta Sehat, Makanya Taubat!

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At Taubah 24)

Ayat ini memulai kisah cinta manusia dengan keluarga, kekayaan, dan usahanya. Ini adalah gambaran cinta yang wajar dan dimiliki semua manusia. Semuanya adalah hal yang wajar untuk dicintai. Tetapi, pandangan ufuk tinggi mu’min sejati mengajarkan kehati-hatian agar ia tak melampaui prioritas cinta akan Allah, Rasul, dan Jihad.

Maka tunggulah samapai Allah mendatangkan keputusanNya. Kalimat ini begitu halus, seolah merupakan dialog dua hati yang terpaut mesra. Pasti, ada ikatan cinta antara kita dengan Allah yang telah begitu mendalam, yang selalu kita ikrarkan dalam persaksian, yang kemudian mengajarkan agar cinta kita adalah cinta yang sehat sepanjang jalan.

Ada banyak orang yang telah dilemahkan oleh cinta manusia. Cinta bukan menjadi energi yang mendorong produktivitas amal dunia-akhirat, tetapi menjadi beban yang memberati jiwa untuk bebas berbakti. Luar biasa kekhawatiran dalam diri Abu Bakar Ash Shiddiq ra, atas ‘Abdurrahman sang putra yang begitu mencintai Atika istrinya.

Amat kuat ikatan mereka berdua, seolah tak ada yang bisa memisahnya. Jangan sampai, pikir Abu Bakar, cinta ‘Abdurrahman pada istri membuatnya melalaikan jihad dan ibadah. Ceraikan istrimu! Begitu perintahnya pada sang putera. Lalu, demi mentaati sang ayah, ‘Abdurrahman pun menceraikan istrinya. Lihatlah perceraian agung ini, bukan karena ketidak cocokan satu sama lain, melainkan sebab kekhawatiran bahwa cintanya akan tumbuh tidak sehat.

Tentu saja nelangsa perasaan ‘Abdurrahman menanggung beban perceraian itu. Selama ini, meski ia mencintai Atikah dengan penuh kesungguhan, tapi ia tetap berusaha agar cinta itu tak menodai ikrar pada Allah untuk berjihad. Demi Allah, ia sudah berusaha. Kini, perasaan cinta yang begitu menggores itu melahirkan sya’ir yang dikenang sejarah:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia
Dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama,
dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu
dan halus tutur katanya

Luluh kemudian hati sang ayah. Mereka pun diizinkan rujuk kembali. Saat itulah, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar menunjukkan kesucian cintanya. Ia buktikan bahwa cinta kepada istri tak pernah melebihi cinta akan Allah, Rasul, dan Jihad sampai ia syahid dalam perang tak berapa lama kemudian.

Membaca kisah ini menjadikan kita begitu malu. Betapa persepsi kita atas cinta begitu jauh dari apa yang difahami Abu Bakar maupun ‘Abdurrahman. Cinta suami-istri yang halalan thayyiban pun masih membuat mereka risau akan ridha tidaknya Allah. Sementara kita enteng saja mengatakan bahwa kita mencintai si dia karena Allah semata. Betapa ringan menulis, ‘Inni uhibbuki.. ukhtii, aku mencintaimu karena Allah.. ukhti’. Masyaallah.

Ada kisa yang menarik tentang Fatimah dan Ali, dua remaja yang tumbuh di bawah asuhan kenabian. Kisah itu berbentuk subuah dialog. “Suamiku..,” kata Fatimah, “Sebelum menikah denganmu, aku pernah sangat menyukai seorang laki2 dan aku sangat ingin menikah dengannya”. Berubah rona wajah Ali. Cemburu, marah, penasaran campur aduk jadi satu. Tapi tetap dengan kelembutan dan perasaannya yang halus dia berkata, “Apakah engkau menyesal menikah denganku?” Fatimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. “Tidak”, ucapnya pelan. “Karena lelaki itu adalah.., engkau..”

Sumber : Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)


Mar 11 2009

Seolah Aku Bukan Diriku

Saya berfikir, bahwa keinginan yang kuat untuk berpacaran dalam diri kita -kalau ada- adalah manifestasi kepengecutan yang bertahta dalam sanubari. Kita pengecut, masih takut2 untuk menanggung beban dalam hidup berumahtangga. Dan di baliknya, kita begitu licik untuk bersegera menikmati sisi2 indah dalam hubungan dua insan. Benar2 pengecut.

Tapi, mari sejenak kita mengembara, menelusur jejak. Menelaah dengan penuh rasionalitas, apa jadinya kalu kita mencicipi manisnya tebu cinta yang ‘belum sah untuk dipanen’ dan tak bisa menanamnya kembali untuk sebuah masa depan yang terbentang di depan kita. Tahu maksudnya?

Yang pertama, betapa berbahayanya ia bagi kepribadian.

“Selama pacaran..”, kata ustadz Anis Matta dalam himpunan ceramah pernikahan, “Mereka berfikir sedang berusaha saling memahami..”

“Tapi bukan itu yang terjadi”, tegasnya. “Kenyataannya ialah mereka berusaha untuk tampil baik dari yang sebenarnya. Sehingga setiap kali berbicara, sebenarnya mereka sedang menyembunyikan diri masing2. Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut bila pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan ditinggalkan.”

Celakanya seorang remaja mudah terseret ke dalam gaya pribadi yang hipokrit. Kita igin tampil super di hadapan si doi. Kita ingin menjadi seorang yang perfect. Sayang, yang dibangun bukan perbaikan diri, tapi proses ‘penopengan diri’.

Ayat2 Al-Qur’an bicara kepada kita tentang kemunafikan. Perusak iman yang ternyata akan sering kita dapati bersesuaian dengan polah kita untuk mendapatkan perhatian si dia. Berkait dengan penampilan, misalnya dan lain2.

Tentu saja yang paling parah adalah ketika terjadi pergeseran orientasi dalam semua aktivitas dan amalan. Ketika sholat kita karena dia dan bukan Dia, ketika kita tahajud karena takut besok pagi bakalan ditanyain sama dia. Ternyata puasa sunah kita karena dia juga. Kita jadi pemberani dan jagoan karena di dekat kita ada dia. Kita rajin belajar karena dia. Astaghfirullah, kalau semua karena dia dan untuk si dia, lalu apa yang kita siapkan untuk bekal akhirat?

Ada baiknya kita dengar juga nasihat ustadz Didik Purwodarsono yang pernah dikutip ustadz Fauzil ‘Adhim dalam buku Saatnya Untuk Menikah. Dalam bahasa yang amat halus beliau mengatakan: Cara belajar untuk menjadi istri terbaik hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami terbaik hanyalah melalui istri. TIDAK BISA MELALUI PACARAN. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik.

Sumber : Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)


Mar 11 2009

Kusambut Engkau, Cinta

Cinta menjadikan pengecut sebagai pemberani, yang bakhil menjadi penderma, si bodoh jadi pintar, memfasihkan lidah, mempertajam pena para pengarang, menguatkan si lemah, mencerdaskan, serta mendatangkan kegembiraan dalam jiwa dan perasaan. Begitu kira2 yang dirangkum ustadz ‘Abdurrahman Al Mukaffi dari para pujangga dalam buku beliau yang legendaris, Pacaran dalam Kacamata Islam.

Bagaimana itu terjadi? Padahal selama ini kata cinta begitu dekat dengan nafsu, umbaran syahwat, dan perzinaan. Tentu saja ini dua kutub dalam menerjemahkan makna cinta. Yang pertama bisa menjadi kemuliaan dunia akhirat ketika manajemen cinta, menempatkan kepada siapa dan atas apa suatu cinta, didasari kesucian untuk menggapai ridha Allah. Sementara yang kedua adalah cermin konsep diri dan konsep hidup yang tidak jelas, childish, dan zhalim dalam memaknai cinta.

Anda wahai remaja, telah menyiapkan bekal untuk menyambut cinta. Kini bersiaplah menyambut tamu itu dengan bekal penuh. Bekal yang membuat cinta menjadi nikmat yang harus disyukuri, Alhamdulillah. Bekal yang menjadikan cinta sebagai energi keshalihan dalam perjalanan menuju ridha Allah. Bekal yang insyaallah, akan menempatkan kita di barisan depan pencinta sejati, pencinta Allah, RasulNya, dan pencinta kebenaran Islam.

Kita juga harus tahu bagaimana pandangan Islam tentang cinta kepada lawan jenis, apa definisinya, dan segala pernak-perniknya. Dan tentu bagaimana agar cinta ini tidak keluar dari kerangka cinta suci Ilahiah, bahkan menjadi pembangun kebersamaan dalam keshalihan.

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa2 yang diingini (syahwat) dari wanita2, anak2, dan harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, ternak, dan sawah ladang … “ (Al-Imran 14)

Ketertarikan pada pasangan hidup menempati posisi pertama dari syahwat kemanusiaan yang ditegaskan Allah sebagai hiasan kehidupan. Ketahuilah bahwa Allah tidak pernah menciptakan suatu noktah pun dengan sia2. Betapa Islam memahami kecenderungan fitrah, menerimanya apa adanya, lalu menjadikannya sumber kemuliaan dalam hidup yang akan dijalani seorang insan.

Islam memposisikan segala sesuatu dalam porsinya yang pas dan menentramkan. Kita tidak menjumpai perintah, bahkan terlarang untuk membunuh cinta dan hawa nafsu dengan merahibkan diri. Dan tentu sebaliknya, kita tidak diperkenankan mengumbarnya menjadi sumber penyakit, malapetaka, dan bencana kemasyarakatan. Islam meletakkan cinta dan hawa nafsu dalam kemuliaan. Kemuliaan berarti kendali terhadapnya yang dipenuhi rasionalitas, kemanfaatan, jiwa pelestarian, pembangunan, dan kematangan.

Maka Islam menghadirkan, bahkan sangat menganjurkan sebuah solusi bagi cinta dan syahwat itu: pernikahan. Sebuah ikatan yang menghalalkan apa yang sebelumnya haram. Sebuah ikatan yang membuat apa yang sebelumnya adalah dosa menjadi pahala. Sebuah ikatan yang mencerdaskan, mendewasakan, mematangkan, dan membuat hidup menjadi bermakna.

Kalau kemampuan memang belum hadir, maka keinginan dan niat yang suci tetap harus ada, agar kita tak termasuk salah satu golongan yang disebut Al Imam Ahmad ibn Hanbal.

“Jika ada seorang pemuda yang tidak berkeinginan menikah, maka hanya dua kemungkinannya, banyak bermaksiat atau diragukan kejantanannya?”

Rabbi.., bila ku jatuh hati
Ku ingin terbang cepat
Hingga syaitan tak sanggup hinggap

Sumber : Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)


Feb 17 2009

Lagi-lagi, kejahatan di Bus (Alhamdulillah masih selamet v^_^)

kali ini kejadiannya di Bus Metromini 75 jurusan Blok M - Ps.Minggu

gini ceritanya, berangkat ke kantor biasa naek 75 dari blok m, di bus awalnya kosong, jadi penumpangnya pada milih bangku yang kosong pastinya. akhirnya semua bangku terisi dengan satu penumpang di terminal blok m, lalu bus berangkat, nggak lama kemudian ada dua orang dengan ciri2 berjaket hitam, yang satu pake kacamata, satunya lagi berambut panjang pake topi. Naaahhh… pas mereka masuk feeling ku udah merasa curiga dengan dua orang itu. sedikit gambaran posisi duduk, aku duduk di bagian tengah bus sebelah kanan di bangku pinggir, depanku seorang ibu2 juga duduk dipinggir, depannya lagi laki2 muda (tapi mudaan aku :D) lagi baca koran (aku sendiri sambil denger nasyid pake SE W610i), lalu bangku deket pintu depan ada seorang gadis di pojok dan seorang laki2 (kayaknya sih mahasiswa) di bangku pinggirnya. kiat mulai ceritanya pas dua orang itu naik.

yang berambut panjang menuju ke arahku dan minta duduk di sampingku, karena dari awal aku sudah curiga aku gak mau duduk di pojok, jadi aku berdiri dan mempersilahkan orang tadi duduk di pojok, hasilnya adalah…. orang itu gak mau dan akhirnya duduk di depanku di samping ibu2 tadi (alhamdulillah selamet), terus masuk deh ibu2 lagi dan aku kasih duduk dipinggir dan aku dipojok karena kalo ibu2 aku gak curiga :p. lanjut….. yang satunya lagi duduk di depan ibu2 sama laki2 yg baca koran.

mulailah aku memperhatikan semua gerak-gerik mereka dari awal karena aku sudah curiga. yg duduk sama ibu2 cuma ngobrol sebentar, kalo gak salah nanya “Mo kemana bu?” dijawab deh, abis itu selesai, yang depannya lagi dicuekin sama laki2 yg baca koran, abis itu dua orang itu cuma ngobrol berdua aja, gak ada gerak-gerik yg mencurigakan lagi. terus mahasiswa yg deket gadis tadi turun, lalu orang yg duduk deket laki2 yg baca koran pindah ke bangku samping gadis itu (gadis itu lagi dengerin musik juga pake earphone), ngorol bentar terus selesai, terus mereka berdua ngobrol lagi. saya gak ngeliat lagi interaksi dua orang itu dengan penumpang tadi. tapi pas mau turun begini kejadiannya… dua orang itu berdiri dan berkata pada gadis dan ibu itu “ayo!”, abis itu mereka berempat turun dan gadis dan ibu2 itu mengikuti dua orang tadi, aku perhatiin mereka lalu ke balik tembok tempat mereka turun……..

walaupun cuma prediksi tapi aku yakin kalo gadis dan ibu itu sudah kena hipnotis dan tindak kejahatan dilakukan setelah mereka turun.

lalu gimana menghindarinya? kalo saya sih harus pilih2 aja kalo mo duduk di bus, terus jangan ngelamun or tidur di bus, perkuat iman dan taqwa pasti akan sulit untuk di hipnotis (betul gak ya???). bagi yang tahu cara menangkal hipnotis bisa di share disini…..

Makasih…….


Feb 3 2009

Bunga Bank

PERTANYAAN
Saya seorang pegawai golongan menengah, sebagian penghasilan saya tabungkan dan saya mendapatkan bunga. Apakah dibenarkan saya mengambil bunga itu? Karena saya tahu Syekh Syaltut memperbolehkan mengambil bunga ini. Saya pernah bertanya kepada sebagian ulama, di antara mereka ada yang memperbolehkannya dan ada yang melarangnya. Perlu saya sampaikan pula bahwa saya biasanya mengeluarkan zakat uang saya, tetapi bunga bank yang saya peroleh melebihi zakat yang saya keluarkan. Jika bunga uang itu tidak boleh saya ambil, maka apakah yang harus saya lakukan?

JAWABAN
Sesungguhnya bunga yang diambil oleh penabung di bank adalah riba yang diharamkan, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta. Artinya, apa yang diambil seseorang   tanpa   melalui   usaha perdagangan dan tanpa berpayah-payah sebagai tambahan atas pokok hartanya, maka yang demikian itu termasuk riba. Dalam hal ini Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.(Antara lain Baqarah: 278-279)

Yang dimaksud dengan tobat di sini ialah seseorang tetap pada pokok hartanya, dan berprinsip bahwa tambahan yang timbul darinya adalah riba. Bunga-bunga sebagai tambahan atas pokok harta yang diperoleh tanpa melalui persekutuan atas perkongsian, mudharakah, atau bentuk-bentuk persekutuan dagang lainnnya, adalah riba yang diharamkan. Sedangkan guru saya Syekh Syaltut      sepengetahuan    saya   tidak    pernah memperbolehkan bunga riba, hanya beliau pernah mengatakan: “Bila keadaan darurat –baik darurat individu maupun darurat ijtima’iyah– maka bolehlah dipungut bunga itu.” Dalam hal ini beliau    memperluas    makna    darurat   melebihi    yang
semestinya, dan perluasan beliau ini tidak saya setujui. Yang pernah beliau fatwakan juga ialah menabung di bank sebagai sesuatu yang lain dari bunga bank. Namun, saya tetap tidak setuju dengan pendapat ini. Islam tidak memperbolehkan seseorang menaruh pokok hartanya dengan hanya mengambil keuntungan. Apabila dia melakukan
perkongsian, dia wajib memperoleh keuntungan          begitupun kerugiannya. Kalau keuntungannya sedikit, maka dia berbagi keuntungan sedikit, demikian juga jika memperoleh keuntungan yang banyak. Dan jika tidak mendapatkan keuntungan, dia juga harus menanggung kerugiannya. Inilah makna persekutuan yang
sama-sama memikul tanggung jawab. Perbandingan perolehan keuntungan yang tidak wajar antara pemilik modal    dengan    pengelola    –misalnya    pengelola memperoleh keuntungan sebesar 80%-90% sedangkan pemilik modal hanya lima atau enam persen– atau           terlepasnya tanggung jawab pemilik modal ketika pengelola mengalami kerugian, maka cara seperti ini menyimpang dari sistem ekonomi Islam meskipun Syeh Syaltut pernah memfatwakan kebolehannya. Semoga Allah memberi rahmat dan ampunan kepada beliau.

Maka pertanyaan apakah dibolehkan mengambil bunga bank, saya jawab tidak boleh. Tidak halal baginya dan tidak boleh ia mengambil   bunga bank, serta tidaklah memadai jika ia menzakati harta yang ia simpan di bank. Kemudian langkah apa yang harus kita lakukan jika menghadapi kasus demikian? Jawaban saya: segala sesuatu yang haram tidak boleh dimiliki dan wajib disedekahkan sebagaimana dikatakan para ulama muhaqqiq (ahli tahqiq). Sedangkan sebagian ulama yang wara’ (sangat berhati-hati) berpendapat bahwa uang itu tidak boleh diambil meskipun untuk disedekahkan, ia harus membiarkannya atau membuangnya ke laut. Dengan alasan, seseorang tidak boleh bersedekah dengan sesuatu yang jelek. Tetapi pendapat ini bertentangan dengan kaidah syar’iyyah yang melarang menyia-nyiakan harta dan tidak memanfaatkannya.

Harta itu bolehlah diambil dan disedekahkan kepada fakir miskin, atau disalurkan pada proyek-proyek kebaikan atau lainnya yang oleh si penabung dipandang bermanfaat bagi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Karena harta haram itu –sebagaimana saya katakan– bukanlah milik seseorang, uang itu bukan milik bank atau milik penabung, tetapi milik kemaslahatan umum. Demikianlah keadaan harta yang haram, tidak ada manfaatnya dizakati, karena zakat itu tidak dapat mensucikannya. Yang
dapat mensucikan harta ialah mengeluarkan sebagian darinya untuk zakat. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima sedekah dari hasil korupsi.” (HR Muslim)

Allah tidak menerima sedekah dari harta semacam ini, karena harta tersebut bukan milik orang yang memegangnya tetapi milik umum yang dikorupsi. Oleh sebab itu, janganlah seseorang mengambil bunga bank untuk kepentingan dirinya, dan jangan pula membiarkannya menjadi milik bank sehingga dimanfaatkan karena hal ini akan
memperkuat posisi bank dalam bermuamalat secara riba. Tetapi hendaklah   ia   mengambilnya    dan   menggunakannya   pada jalan-jalan kebaikan. Sebagian   orang   ada   yang    mengemukakan   alasan bahwa sesungguhnya seseorang yang menyõmpan uang     di bank juga memiliki risiko kerugian jika bank itu mengalami kerugian
dan pailit, misalnya karena sebab tertentu. Maka saya katakan bahwa kerugian seperti itu tidak membatalkan kaidah, walaupun si penabung mengalami      kerugian   akibat   dari kepailitan    atau kebangkrutan tersebut, karena hal ini menyimpang dari kaidah yang      telah   ditetapkan.   Sebab tiap-tiap kaidah ada penyimpangannya, dan hukum-hukum dalam syariat Ilahi -demikian juga dalam undang-undang buatan manusia– tidak boleh disandarkan kepada perkara-perkara yang ganjil dan jarang terjadi. Semua ulama telah sepakat bahwa sesuatu yang jarang terjadi tidak dapat dijadikan sebagai sandaran hukum, dan sesuatu yang lebih sering terjadi dihukumi sebagai hukum keseluruhan. Oleh karenanya, kejadian tertentu tidak dapat membatalkan kaidah kulliyyah (kaidah umum). Menurut kaidah umum, orang yang menabung uang (di bank) dengan jalan riba hanya mendapatkan       keuntungan   tanpa memiliki risiko kerugian. Apabila sekali waktu ia mengalami kerugian, maka hal itu merupakan suatu keganjilan atau penyimpangan dari kondisi normal, dan keganjilan tersebut tidak dapat dijadikan sandaran hukum. Boleh jadi saudara penanya berkata, “Tetapi bank juga
mengolah uang para nasabah, maka mengapa saya tidak boleh mengambil keuntungannya?” Betul bahwa bank memperdagangkan uang tersebut, tetapi apakah sang nasabah ikut melakukan aktivitas dagang itu. Sudah tentu tidak. Kalau nasabah bersekutu atau berkongsi dengan pihak bank sejak semula, maka akadnya adalah akad
berkongsi, dan sebagai konsekuensinya nasabah akan ikut menanggung apabila bank mengalami kerugian. Tetapi pada kenyataannya, pada saat bank mengalami       kerugian   atau bangkrut, maka para penabung menuntut dan meminta uang mereka, dan pihak bank pun tidak mengingkarinya. Bahkan kadang-kadang    pihak  bank   mengembalikan uang simpanan tersebut dengan pembagian yang      adil   (seimbang)   jika berjumlah banyak, atau diberikannya sekaligus jika berjumlah sedikit.
Bagaimanapun juga sang nasabah tidaklah menganggap dirinya bertanggung jawab atas kerugian itu dan tidak pula merasa bersekutu dalam kerugian bank tersebut, bahkan         mereka menuntut uangnya secara utuh tanpa kurang sedikit pun.

Sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer - Dr. Yusuf Qardhawi